|
Rekan-rekan yang saya hormati,
Selalu ada berita yang baik dan berita yang buruk. Yang baik (mari merayakannya!) adalah:
- pada tahun 2011 Endeavour Language Teacher Fellowships akan diadakan di INDONESIA! Selama beberapa tahun kursus yang sangat berharga ini diuruskan di kota Darwin, sebabnya perjalanan ke Indonesia dianggap berbahaya dan Travel Advisory dimengerti sebagai larangan. Untunglah, pikiran negatif itu sudah digantikan sikap yang lebih realistis. Saya mau mendorong Anda untuk melamar ELTF ini – silakan mengunjungi situs http://www.deewr.gov.au/International/EndeavourAwards/TeachersFellowships/Pages/ELTFPractising.aspx.
- tahun 2010 adalah hari ulang tahun ke-20 hubungan Australia Barat dengan Jawa Timur. Hubungan ini ternyata kuat dan selalu maju, khususnya dalam bidang bisnis dan pertanian, dan banyak sekali proyek penting yang sedang dikembangkan antara perusahaan-perusahaan dan pemerintah-pemerintah kita. Beberapa peristiwa berfokus kebudayaan Indonesia, yang menarik untuk siswa sekolah, akan diadakan di kota Perth tahun ini, Saya akan memberitahu Anda secepat mungkin semua informasinya.
- WILTA juga menawarkan kesempatan belajar bahasa dan budaya Indonesia melalui beasiswa RTV (Reciprocal Teacher Visit). Setiap tahun salah seorang anggota WILTA dipilih untuk mengajar di IALF Bali, serta beberapa sekolah di Bali, selama tiga minggu. Mungkin tahun ini ANDA bisa menjadi pesertanya! Silakan melihat informasinya di halaman 6 dan 7 Warta WILTA.
Tetapi, waduh, berita buruknya ada juga. Sebuah laporan berjudul The State of Indonesian Language Education in Australian Schools sudah keluar, dan pesannya sangat menghawatirkan. Bisa dibaca di: http://www.asiaeducation.edu.au/verve/_resources/IndonesiaReport.pdf. Laporan ini, yang ditulis oleh Michelle Kohler (Research Centre for Languages and Cultures, University of South Australia) dan Dr. Phillip Mahnken (Faculty of Arts & Social Sciences, University of the Sunshine Coast), menunjukkan bahwa jumlah pelajar bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Australia makin turun. Memang, kalau masih terus turun, menurut laporan ini, dalam beberapa tahun bahasa Indonesia akan punah di sistem pendidikan kita.
Disturbing though the above report is, I am optimistic that we Indonesian teachers in schools, through our passion for our language, can keep our students fascinated and achieving, and our programs flourishing. Universities are also working hard to build up student numbers in Indonesian and other Asian languages. The rest will be up to the educational policymakers who need to take heed of what anyone with any knowledge of Indonesia is saying – that Australia needs a vast increase in the number of Indonesian speakers if it is to develop its potentially enormously valuable relationship with its nearest neighbour.
As you read through this great issue of Warta WILTA, take special notice of our “Hari Kemerdekaan Dinner” – an opportunity to celebrate Indonesia’s Independence Day with great food and socialising!
Looking forward to seeing you there,
Salam hormat
Sue
|